Sejarah Lahirnya Liga Europa, Kompetisi Tingkat 2 Europa Yang Tidak Kalah Seru

Liga Europa
daftar

Daftar agen bola terpercaya di indonesia – Awalannya, nama kompetisi ini ialah Fairs Cup. Selanjutnya, jadi Piala UEFA dan nyaris empat dasawarsa selanjutnya, namanya diganti jadi Liga Europa. UEFA selaku yang memiliki kopetisi ini menjelaskan, semua pengubahan nama dan pola dilaksanakan untuk tingkatkan kualitas persaingan. Dengan demikian, penghasilan akan bertambah sendirinya.

Bila Anda menjelaskan jika segala hal yang terkait dengan persaingan club Eropa sekarang sudah dirusak oleh kebutuhan keuangan, Anda salah besar. Kenyataannya, semenjak awalnya, persaingan antar-klub Eropa, terutamanya Liga Europa, dilandasi oleh keinginan untuk hasilkan uang.

Ada argumen kenapa asal-usul persaingan ini disebutkan Fairs Cup dan semua berawal saat Eropa sedang ingin berbenah sesudah Perang Dunia II. Persaingan yang namanya komplet Inter-Cities Fairs Cup ini seumuran dengan Piala Eropa atau yang sekarang dikenali dengan Liga Champions. Ke-2 persaingan itu diawali di tahun 1955, atau pas satu dasawarsa sesudah Perang Dunia II usai.

Gagasan itu tiba dari Ernst Thommen (Swiss), Ottorino Barassi (Italia), dan Sir Stanley Rous (Inggris). Maksudnya untuk menyemarakkan pameran dagang (trade fair) yang diadakan oleh beberapa kota Eropa di situ.

Saat sebelum Cup Fairs mulai diadakan, beberapa kota pelaksana trade fair telah memiliki inisiatif melangsungkan persaingan pertemanan keduanya. Thommen, Barassi dan Rous menyaksikan ini sebagai tempat kesempatan dan ingat jika di saat pameran perdagangan sedang berjalan di mana laga sepak bola jadi banyak secara automatis, kenapa tidak membuat laga saja?

Awalannya, yang dibolehkan untuk berperan serta hanya team dari kota yang melangsungkan pameran dagang, lepas dari step di mana team itu akhiri persaingan liga. Tetapi, sesudah 13 tahun jalan dengan ide ini, ketentuan berbeda: cuman runner-up liga yang bisa mengikut kompetisi untuk jaga kualitas persaingan.

daftar

Ide itu berjalan sepanjang 3 tahun sebelumnya terakhir UEFA pilihnya (sesudah menyaksikan perkembangan jumlah team yang berperan serta, dari 11 team jadi 64 team) dan mengganti nama persaingan jadi Piala UEFA. Ketentuannya sama: cuman runner-up yang dapat mengambil sisi dan itu yang membuat gengsi persaingan ini demikian tinggi.

Ingat kualitas beberapa kompetisi itu di periode lalu, untuk tim-tim seperti Real Madrid, Liverpool, Juventus, Bayern Munich, atau Ajax, memenangi gelaran ini bukan noda, sama seperti yang disebutkan Jose Mourinho 4 tahun kemarin. Dapat disebut, kualitas persaingan ini tidak berbeda jauh sama yang kita tonton di Liga Champions sekarang ini.

Tetapi, semuanya usai pada 1980 saat koefisien UEFA dikenalkan. Semenjak waktu itu, bukan hanya runner-up yang dapat mengikut persaingan ini. Seberapa banyak team yang penuhi persyaratan untuk berperan serta tergantung pada status negara dalam koefisien UEFA. Pola ini sendiri bertahan sampai akhir 1990-an.

Sesudah pada 1997/98 UEFA putuskan jika tim-tim yang tergabung dengan Liga Champions tidak cuma juara tapi juara plus runner-up, 2 tahun selanjutnya UEFA satu kali lagi mengganti ketentuan. Semenjak musim 1999/2000, empat club (dari negara dengan koefisien paling tinggi) maju ke Liga Champions. Selanjutnya, dua club di bawah mereka, ditambahkan satu juara piala lokal, dan satu atau dua club yang bisa lolos lewat Piala Intertoto (bila ada) jadi peserta Piala UEFA.

Saat itu integritas Piala UEFA betul-betul jatuh dan pemicunya tidak lain ialah keserakahan UEFA sendiri. Menyaksikan makin uang banyak yang dihimpun lewat Liga Champions – khususnya semenjak mereka mengganti nama Piala Eropa jadi Liga Champions di tahun 1992 – UEFA terus tingkatkan keterlibatannya dalam kompetisi untuk memperoleh semakin banyak tayangan tv dan tingkatkan keuntungan. Ketika yang serupa, Piala UEFA yang sejak dari awalnya memang “anak tiri” makin diacuhkan.

UEFA sendiri tidak mengetahui jika Piala UEFA kehilangan popularitasnya dan itu penyebabnya mereka menukar nama persaingan itu dengan memberikannya nama Liga Europa di tahun 2009. Selainnya memberi semakin banyak peluang ke team-team dari negara kecil (sesudah tersingkirnya Piala Intertoto) Bermacam usaha dilaksanakan untuk tingkatkan kualitas persaingan, terhitung dengan masukkan beberapa pecundang Liga Champions (seperti dua finalis musim ini, Ajax dan Manchester United) ke dalamnya..

Tetapi, semua usaha yang dilaksanakan UEFA gagal. Ada banyak team, khususnya dari beberapa negara dengan koefisien tinggi, yang memandang persaingan ini tidak bermanfaat. Sering, mereka memilih untuk mainkan team ke-2 mereka untuk berkompetisi di Liga Europa. Karena itu, UEFA lalu menipu penampikan team itu dengan menambah stimulan baru.

Mulai musim kemarin, team yang memenangkan Liga Europa automatis maju ke Liga Champions, tidak perduli tingkat yang mana mereka tuntaskan di liga semasing. Sevilla melakukan musim kemarin. Walau finish ke-7 di La Liga musim kemarin, Sevilla memiliki hak langsung maju ke babak group ke Liga Champions.

Manchester United menyaksikan hal sama musim ini. Sadar jika kesempatan di Premier League lebih susah, mereka pilih konsentrasi ke Liga Europa saja. Akhirnya, mereka sekarang meluncur ke final, walau harus hadapi Ajax yang muda dan dinamis.

Tetapi, dampak dari stimulan ini tidak bisa diukur. UEFA sendiri telah berasa nyaman dengan pola Liga Champions mereka dan mereka tidak pernah merasainya kembali. Pertanyaannya ialah, bila semuanya tidak bisa menolong Liga Europa, cara apalagi yang bakal diambil UEFA? Pasti, sebagai salah satunya organisasi rakus dalam dunia, mereka belum siap bila kontes yang awalannya mempunyai tujuan untuk kumpulkan uang sebanyak-banyaknya ini kehilangan performnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *